Madrasah Aliyah

MA Al-Mujtama`

Pamekasan Madura

Aku Kuat Karena Ayah


Writer: Dini Afifah Damayanti

Namaku Memeng, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahku hanya penyapu jalanan yang penghasilnya tidak memenuhi kebutuhan dalam sebulan. Tapi aku bangga dengan ayah, karena dia mengajariku untuk tegar menghadapi masalah kehidupan 

“Suami gak becus! Selalu saja merepotkan!" bentak ibu sambil mengemas barang-barangnya. 

“Ibu mau kemana?“ tanyaku dengan nada bergetar tidak ada jawaban dan ibu langsung pergi meninggalkanku. 

Aku ingin sekali megejar ibu, tapi aku tidak tega dengan keadaan ayah yang lumpuh akibat tertabrak mobil saat bekerja.

‘maafkan ayah nak !”. Ucap ayah sambil mengelus rambutku. Aku terus menangis dalam pelukan ayah.

Semakin hari uang tabunganku semakin menipis “aku harus bekerja” gumamku dalam hati.

“Mau pesan bubur apa?” ucap seseorang membuyarkan lamunanku. 

“Maaf,tapi saya sedang membutuhkan pekerjaan.”

”Kebetulan saya membutuhkan pekerja untuk mengantarkan bubur pesanan kepada pelanggan, tapi saya tidak bisa memberikan bayaran yang tinggi” ucapnya. 

“Iya pak saya siap!”

“Ya usdah besok kamu sudah mulai bisa bekerja. Tapi ingat, bubur harus sampai ke pelanggan dengan tepat waktu!”. “InsyaAllah, pak saya siap!” Ucapku dengan rasa percaya diri.

Setiap hari aku harus berlari dengan sekuat tenaga agar bubur samapi pada tangan pelanggan dengan tepat waktu. Hingga suatu hari aku menemukan selembar brosur lomba lari yang akan diadakan minggu depan, hadiahnya lumayan untuk membantu pengobatan kaki ayah. Aku sangat berharap memenangkan lomba ini.

“Ayah.. Doakan Memeng ya.. Jika menang, nanti Memeng akan bawa ayah berobat ke rumah sakit” ucapku sambil menahan air mata yang mulai berjatuhan.

“Ayah akan selalu mendo’akanmu. Jika kamu menang nanti uangnya kamu tabung saja. Ayah tidak ingin merepotkanmu” jawab ayah sambil memelukku lembut.

Dengan bekal latihan setiap hari sambil mengantarkan pesanan bubur, kini aku siap untuk mengikuti lomba. Hanya ayah yang selalu muncul dalam benakku dan membuatku menjadi semangat.

Dalam hitungan ke-3 lomba akan dimulai. Aku berbaris dengan rapi bersama peserta lainnya. 1, 2, 3 …… Aku berlari dengan kencang dan mulai mendahului peserta yang lain. Berada diurutan paling depan membuatku semakin yakin untuk menang.

“Memeng! Pulang nak! Ayahmu semakin parah!” Sorak pok Atun terdengar jelas saat kakiku hampir menyentuh garis finish. Aku langsung berhenti berlari dan kembali pulang demi ayah. Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku tidak peduli dengan perlombaan tadi, apa gunanya aku menang jika ayah tidak baik-baik saja.

(Deg!) Jantungku berdetak keras satu sekali. Aku kaget melihat bendera kuning terpajang di depan pintu. “Ayah……..!!”. Teriakku sambil berlari mendekati jasad ayah yang sudah tak berdaya. Aku merasa gagal karena tidak bisa mengorbankan semuanya untuk ayah. 

“Maafkan Memeng, Ayah.” Ucapku dalam hati sambil memeluk jasad ayah.

 

 



Tulisan Terbaru
Tulisan Populer
Tulisan Terbaca