Madrasah Aliyah

MA Al-Mujtama`

Pamekasan Madura

Mencegah Bunuh Diri: Membangun Generasi yang Lebih Kuat

Oleh: Rahma Dinia Malaysari

Angka bunuh diri di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan, dalam periode Januari–Oktober tahun ini saja, tercatat sebanyak 1.023 kasus (https://data.goodstats.id/). Beragam faktor menjadi pemicunya, mulai dari masalah ekonomi, konflik keluarga, hingga persoalan percintaan. Hal-hal kecil maupun besar dapat memengaruhi kondisi mental seseorang, hingga akhirnya berpikir bahwa bunuh diri adalah jalan keluar dari penderitaan.

Namun, apakah benar demikian? Nyatanya, tindakan ini justru bisa menjadi "pilihan" yang diwariskan ke generasi berikutnya, dianggap sebagai solusi instan dalam menghadapi masalah. Ironisnya, bukannya memberi contoh bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah, beberapa orang justru menjadikan bunuh diri sebagai standar dalam menyikapi kesulitan hidup. Pernah dengar ungkapan seperti: "Kamu nggak tahu rasanya jadi aku.", "Kalau kamu jadi aku, kamu juga pasti begini.", atau "Orang lain cuma bisa ngomong."? Tapi, jika aku menjadi kamu, lalu apa yang akan kita dapat? Apakah itu solusi?

Coba renungkan sejenak. Banyak orang di luar sana yang menghadapi masalah lebih berat, tetapi mereka tidak menjadikan bunuh diri sebagai pilihan. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa hidup adalah tentang melewati, bukan mengakhiri.

Lalu, bagaimana kita mencegah agar fenomena ini tidak menjadi budaya yang terus berulang?

Kuncinya adalah menciptakan lingkungan yang sehat, penuh kasih sayang, dan perhatian. Generasi muda harus merasa nyaman, dihargai, dan tidak dibiarkan merasa sendirian. Berikan mereka dukungan emosional yang cukup, ajarkan mereka untuk menjadi pribadi yang tangguh, yang tidak mudah menyerah pada kekecewaan dan kegagalan. Sebab, kekecewaan dan kegagalan bukan alasan untuk menyerah—itu hanyalah bagian dari perjalanan hidup yang perlu dilewati, bukan diakhiri.

Tulisan Terbaru
Tulisan Populer
Tulisan Terbaca